Mayjen (Purn) H Andi Mattalatta, seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal
tanah Bugis yang juga tokoh olahraga meninggal dunia sekitar pukul 01.10 Wita
Sabtu 16 Oktober 2004 di rumahnya, Jalan Dr Ratulangi 12 Makassar. Pak Mat --
panggilan akrabnya -- kelahiran Barru, 1 September 1920 meninggal dalam usia 84
tahun.
Ayah dari artis kondang Andi Meriam
Mattalatta dan politisi Dr Muhammad Andi Mattalatta ini adalah panglima pertama
Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST), dilantik 1 Juni
1957 oleh Kasad Mayjen TNI AH Nasution. Sebelum meninggal dunia, Andi
Mattalatta telah membukukan kisah perjuangannya yang ditulis sendiri setebal
644 halaman. Kisah itu itu diberi berjudul : Meniti
Siri dan Harga Diri.
Dalam tulisan itu, Mattalatta tidak hanya
menapaktilasi perjuangannya di pentas militer yang diawali sebagai Tokubetsu
Teisintai di masa pendudukan Jepang tahun 1944. Namun penyandang berbagai
anugerah bintang dan satya lencana perjuangan itu juga mengurai berbagai
pengalamannya membangun dunia olahraga di Indonesia, khususnya di Sulawesi
Selatan.
Sebelum mengawali karier militer, bangsawan
Bugis-Makassar kelahiran Barru 1 September 1920 itu, mendalami bidang atlet. Ia
memiliki prestasi olahraga renang, loncat indah, tinju, bahkan hampir semua
jenis olahraga ditekuninya.
Andi Mattalatta dijuluki maniak olahraga,
ia serba bisa sehingga atas kehebatannya di masa kolonial Belanda, menjadikan
ia satu-satunya pribumi yang direstui bergabung menjadi anggota Sport Stait
Spieren (SSS) yang didirikan untuk anak-anak Belanda di masa itu.
Stadion Mattoanging
Tahun 1952 Andi Mattalatta memprakarsai
pembangunan Stadion Mattoanging Makassar yang dilengkapi gedung
olahraga, kolam renang, serta fasilitas olahraga lainnya di Makassar. Dia juga
menjadi tokoh penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) IV tahun 1957 di Kota
Makassar.
Di bidang olahraga, Mattalatta sudah
menunjukkan kehebatannya sejak 1932, menyisihkan atlet-atlet keturunan Belanda
dalam renang gaya dada memperebutkan piala Ratu Wilhelmina der Nederlanden van
Oranje Nassau di Makassar. Diusia 15 tahun Mattalatta menjadi petinju yang
mengawali prestasi di kelas bulu (55kg) dengan meng-KO petinju Batavia, Kid
Usman, kelas ringan (60 kg). Ia juga menjadi pelatih dibeberapa klub atlet karena
kemahirannya.
Pantai LumpuE, Kota Pare-Pare (163 km arah
Utara Makassar), memiliki kesan sejarah yang tak terlupakan oleh Mayjen TNI
(Purn) Andi Mattalatta. Dari pantai indah berpasir putih yang terletak sekitar
122 km dari Kota Makassar itu, ia mulai merintis cikal bakal keberadaan
olahraga ski air di Indonesia.
Keinginan Andi Mattalatta untuk mempelajari
olahraga itu bangkit karena terobsesi film Easy to Love yang ditontonnya saat
bertugas di Semarang. "Saya kagum pada tokoh film Easy to Love itu, berulang
kali saya tonton dan itu film kesukaan saya," katanya dalam wawancara
khusus dengan Pembaruan
beberapa waktu lalu.
Ketiadaan fasilitas olahraga tersebut tidak
mematahkan keinginannya, berbekal gambar speedboat yang diperoleh dari majalah Mechanic Illustrated Andi
Mattalatta membawanya kepada Jo Thong Siang, seorang pembuat sekoci di Kota
Makassar. Ia lalu memesan untuk dibuatkan dua buah sekoci type Runabout serta
memesan motor tempel 35 PK melalui NV Jacohson van den Berg.
Dua minggu kemudian, alat-alat itu telah
rampung. Namun, karena sulitnya mendapatkan papan ski, terpaksa ia membuat
sendiri menggunakan papan sepanjang 1,70 m, lebar 0,20, pada ujungnya
dilengkungkan. Ia juga membuat sepatu ski hanya dengan memakai sepatu kets yang
diikat, sedangkan tali penariknya ski hanya menggunakan tali ijuk tanpa alat
pegangan.
Tumpas RMS
Ketika bertugas sebagai Komandan Batalyon
di Pare-Pare, Mayor Andi Mattalatta mengharuskan semua anak buahnya untuk
pandai berenang. Masalahnya, kata Andi Mattalatta, dia punya pengalaman pahit
saat memimpin Ge-rakan Operasi Militer (GOM) di Pulau Haruku, Maluku Selatan
ketika menumpas gerombolan Republik Maluku Selatan (RMS).
Prajurit yang tergabung dalam Batalyon 705
Mattalatta yang diberangkatkan 18 Desember 1950 banyak yang gugur bukan karena
tertembak musuh, melainkan tenggelam ketika terjadi pendaratan
pantai."Soal kepandaian berenang sangat prinsip bagi seorang prajurit, dan
itu harus dikuasai," kata Andi Mattalatta.
Karena belum mengenal alat pelampung
(lifevest), maka setiap yang berminat untuk belajar, harus terlebih dahulu
pandai berenang. Itulah yang membuat Andi Mattalatta, puas sebab pasukannya
yang berminat dengan olahraga yang ramai ditonton masyarakat itu, dengan
sendirinya harus menguasai renang sehingga tidak perlu lagi repot melatih
prajurit berenang.
Ketika menjadi Komandan Komando Pangkalan
Militer Makassar tahun 1953, olahraga ski air berkembang pesat di Makassar dan
menarik perhatian masyarakat luas. Andi Mattalatta sering mengundang para
perwira untuk memperoleh rekreasi segar agar membebaskan mereka dari kejenuhan
tugas. Tak ketinggalan bangsa asing yang berdomisili di Makassar ikut belajar
main ski air menyusuri pantai Makassar, Pulau Lae-Lae, Pulau Samalona dan Pulau
Meroux yang sekarang bernama Pulau Kayangan.
Tahun 1954, ayah kandung artis Andi Meriam
Mattalatta ini mendirikan Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air (POPSA)
di Makassar dan membangun rumah klub di depan Fort Rotterdam, tepi pantai Kota
Makassar. Hingga kini tempat itu masih menjadi pusat kegiatan olahraga air.
Semua
putra-putri Andi Mattalatta mahir bermain ski air mewarisi kemampuan alam yang
dimiliki Andi Mattalatta. Mereka adalah dr Hj Andi Hermien Mattalatta, H Andi
Muh Ilhamsyah Mattalatta, Ir H Andi Radlia Mattalatta,MBA, dr Andi Farida
Mattalatta, SPA, Hj Andi Meriam Mattalatta dan Ir Hj Andi Sorayantina
Mattalatta. Dua diantaranya merupakan atlet ski air yang cukup tangguh yaitu
Andi Ilhamsyah, pernah mendapat gelar"seniman slalom" pada Kejurnas
Ski 1972, sedangkan Andi Sorayantina, putri bungsu Andi Mattalatta memiliki
prestasi terbaik di PON X di Jakarta, 1981.
©
ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar