Senin, 24 Desember 2012

Sosok Pangeran Diponegoro






Pangeran Diponegoro

Lahir           : Yogyakarta, 11 November 1785
Wafat         : Makassar, 8 Januari 1855
Makam        : Makassar

Pangeran Diponegoro nama aslinya Raden Mas Ontowiryo. Pangeran Diponegoro tidak terpilih menggantikan ayahnya Sultan Hamengku Buwono III menjadi raja karena ibunya bukan permaisuri.

Pada tahun 1820-an Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan kerajaan-kerajaan Jawa termasuk kasultanan Yogyakarta. Para bangsawan diadu domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil utnuk perkebunan milik pengusaha-pengusaha Belanda. Pangeran Diponegoro merasa tidak senang. Lalu pergi dari keraton dan tinggal di Tegalrejo. Hal ini dijadikan alasan oleh Belanda menuduhnya menyiapkan pemberontakan. Tanggal 20 Juni 1825 pasukan Belanda menyerang Tegalrejo. Dengan demikian mulailah perang yang dikenal dengan nama Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825 – 1830). Setelah Tegalrejo jatuh. Pangeran diponegoro pindah di Gua Selarong yang kemudian dijadikan markasnya. Beliau dalam berperang melawan Belanda dibantu oleh Kyai Mojo Ulama dari Surakarta dan Panglima Perang Sentot Ali Basya Prawiryodirjo. Tak ketinggalan pamannya Pangeran Mangkubumi. Lalu perang dilancarkan perang gerilya. Belanda kewalahan menghadapi taktik perang ini.

Pada tahun 1829 perlawanan semakin berkurang, karena beberapa tokoh utama seperti Sentot menyerah. Namun perlawnaan masih berlanjut terus. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 50.000 golden kepada siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro, namun rakyat tidak menggubrisnya. Karena Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, lalu jenderal Belanda bernama Hendrik De Cock menjalankan cara yang licik yaitu dengan cara mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830, tapi Diponegoro malah ditangkap dan dibuang ke Manado, kemudian dipindahkan ke Ujungpandang. Pangeran Diponegoro meninggal dunia di Benteng Rotterdam, Ujungpandang. Pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan disana.

Amir Hendarsah dalam bukunya,”Kisah Heroik PAHLAWAN Nasional”

1 komentar: